image

image

image

bagian yang paling sulit dari tidak merepotkan orang adalah berusaha berdiri pada kaki kita sendiri. menyadari bahwa setiap orang datang dengan impian & bebannya masing-masing. wajar jika suatu saat kita merasa seperti tersesat. seperti tidak ingin berada di tempat dimana kita akan pulang atau pun tempat dimana kita kan pergi. seperti aku kali ini.  

have no idea how i miss ‘em rite now

image

kuliah 30 SKS tentang kehidupan dan pertemanan ada di sini. dan sampai saat ini aku masih belum lulus ujian rasa-rasanya. katanya ujiannya akan seumur hidup, aku masih punya waktu. yang paling sulit dari berakhirnya kuliah ini adalah tidak memendam amarah pada teman & tidak menyesal tidak berbuat yang terbaik. ada sesekali aku pulang dari kelas larut malam sambil sesenggukan menuju rumah bapak dosen. mengadu tentang mata kuliah yang sulit sekali & aku hampir menyerah. bapak dosen cuma memberiku segelas air putih, mengusap kepalaku dan berkata ini akan baik untukku. aku rindu teman-teman yang dulu pernah datang, lalu memutuskan untuk pergi. padahal kami pernah sama-sama duduk depan api saat libur kuliah. mungkin mereka lupa, lupa cita-cita besar ini.

image

indra-hidayat:

Mungkin setiap generasi memiliki intimidasinya sendiri. Kadang Penjajahan, kekerasan, kemiskinan, kesepian, kebosanan, atau yang lainnya. Bahkan, kadang-kadang jumlah nominal  jadi sebuah Intimidasi…… Semua itu selalu ada di daerah abu-abu. Mungkin gara-gara ini lari dan mendaki menjadi digemari. Titik akhir dan puncak ada dengan jelas. Intimidasi dari lelah fisik dan alam sangat terlihat. Dan jalur yang dilalui menjadi pasti. Namun kebanyakan dalam hidup, garis finis kadang-kadang bergerak.  Memberi harapan atau kepalsuan. Mungkin kita bisa saja menjadi populer dengan berbuat kerdil, namun kita tidak akan menjadi besar. menyerah pada intimidasi. Mungkin hanya dengan membagi, kita bisa memiliki…… hal-hal untuk dipercaya.

Manis, ini lingkaranku…
Kau tak bisa menari untuk masuk dan pergi
Kau hanya bisa masuk dengan telanjang
Atau menjadi kepiting, namun pergi dari lingkaran.
Hidup selalu tentang memilih dan teramat kejam untuk sekedar tersenyum lalu melangkah kebelakang

Mari sini manis….
Kita melangkah beriringan
Dengan mata saling mengawasi
Tangan saling menggengam
Dan darah saling membanjiri
Dengan merdeka kita bisa hidup
Mungkin akan selalu ada intimidasi
Tapi tidak akan mencemari,

Ini lingkaran kita manis….
Atau hanya lingkaranku?   

 Hidup selalu tentang memilih
Kebanyakan dengan darah

"There are years that ask questions and years that answer."
Zora Neale Hurston (via mansplainedmarxist)

XXX hari. Saya telah belajar banyak dan menemukan hal-hal baru. Saya belajar bahwa untuk menjadi sesosok tetua adat adalah tentang sebuah tanggung jawab menyelesaikan tugas dengan baik (dan menarik) dan kerelaan berbagi ruang berkembang bersama timnya.

Banyak aral melintang juga kesalahan-kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja dilakukan untuk menyelesaikan semua ini. Dipisahkan oleh jarak bukan keinginan siapa pun, begitu juga meminta waktu lebih dari 24 jam sehari bukanlah hal bijaksana. Memang bukan kuasa manusia untuk mendebat takdir, tapi lebih tentang bagaimana bermain siasat dengan yang telah digariskan.

Sebulan pertama menjabat sebagai tetua adat tidak berjalan dengan baik. Tugas kuliah dan berbagai bahan presentasi sedang menumpuk dan saya belum terlatih membagi beban tugas me-layout kepada tim. Namun bukan hal yang baik nampaknya member alasan akademik untuk meleburkan tanggung jawab. Dan yang perlu diingat ketika kamu diangkat menjadi tetua adat adalah tidak akan ada lagi yang akan mengingatkanmu tentang cara membagi tugas dan diam-diam sebenarnya tim-mu juga sedang menunggu tugasnya diberikan olehmu.

Berkegiatan di sebuah unit majalah kampus juga memberikan saya kesadaran bahwa apa yang akan saya terbitkan di majalah kelak akan menjadi sebuah isu yang wajib dipertanggungjawabkan kebenarannya. Terlebih lagi 12.000 mahasiswa ITB yang terkenal kritis bukanlah orang-orang yang bisa dibutakan matanya dan dibisukan mulutnya oleh layout indah ataupun galeri spektakuler. ITB telah menjadi sebuah kumpulan orang-orang heterogen yang saling melengkapi keilmuannya dan tidak bisa dibodoh-bodohi oleh berita kampus tanpa narasumber dan isu yang tidak bertanggung jawab.

Bulan juni 2013 saya menerima tanggung jawab sebagai salah satu panitia Ekspedisi Pelita Muda. Bukan tanpa pertimbangan juga saya akhirnya mengiyakan tawaran itu. Bukan juga karena lupa atau ingin serakah dengan jabatan dimana-mana. Bukan juga karena Presiden KM ITB saat itu adalah teman saya. Semua ini hanya sekedar karena kecintaan saya pada negeri ini, pada harapan-harapan saya bahwa anak ITB harus melangkah lebih jauh dari gedung kuliah, dari CC barat, dari laboratorium, dari salman dan darimana pun disekitar kampus ini. Banyak anak ITB mengelu-elukan mencintai Indonesia, bahkan melakukan perjalanan untuk mengenal Indonesia dengan sehat saja mungkin belum pernah terlintas atau ciut. Padahal banyak yang berharap pada mahasiswa ITB. dan maafkan saya apabila diakhir kepengurusan, saya menjadi buyar dan terpecah-pecah. Banyak yang harus dikorbankan untuk berbagai pilihan. Dan ini telah saya pilih sebagai kontribusi saya bagi Indonesia.

Pernah ada yang bilang bahwa teman yang baik adalah teman yang selalu ada dikala suka ataupun duka. Teman yang baik akan menarik tangan kita saat lelah (atau jika ia kuat, ia akan bersedia membawakan tas kita sebentar) dan mengangkat tubuh kita saat terjatuh karena lutut yang terluka sangat sakit untuk dibawa berjalan. Banyak hal harus dilakukan untuk menciptakan suasana pertemanan yang hangat. Dan itu memang harus dilakukan untuk mendapatkan seorang teman hidup.  

Selama menjadi Redaktur Artistik di kepengurusan Majalah Boulevard tahun 2013/2014, saya sangat bersyukur mendapatkan teman-teman seperjuangan yang selalu membantu & mengingatkan saya untuk menyelesaikan tugas-tugas saya ini dengan baik & ikhlas (Skala prioritas pun sempat dipertanyakan mungkin). Terima kasih kepada Idham, Anissa, Faiz yang selalu sabar menghadapi keabsenan saya dimanapun saya dibutuhkan, kepada Anas, Galung, Arum, Afifah, Agita, Amri, Agus, Jojo, Chandra yang tengannya lebih keras daripada sebongkah batu karena apa yang kalian ciptakan telah menjadi sebuah karya seni, kepada Kak Dinda & Kak Mita yang telah menunjukan bahwa semua ini berharga untuk diselesaikan, dan kepada semua keluarga Boulevard yang periang dan selalu bergebu-gebu. Semoga kita diberi waktu lagi untuk bersama-sama menciptakan sebuah karya.

Tertanda,

K.

 » ini.. Laporan Pertanggungjawaban aku diakhir kepengurusan, yang aku presentasiin ke anggota Majalah Boulevard hari sabtu kemarin. ha-ha-ha. panik sih sebenernya baru bikin J-2 dan setelah liat LPJ-nya PU (pemimpin umum), Pimred (pemimpin redaksi), dan Pimper (pemimpin perusahaan) yang rata-rata 8 halaman dan isinya evaluasi timeline atau kinerja tim.. langsung pengen pulang aja. aku ngapain ajaaaaa selama ini woywoywoy!@#$%^&*. waktu nyuruh Anas (tim artistik) baca dia langsung ngusap wajah, nyuruh aku bikin dari awal lagi & lebih serius. padahal yang aku bikin itu.. serius banget, Nas! kamu lupa Nas, kayaknya selama kita ngelayout, kerjaan kita cuma hahahihi, ngomongin orang, ngelawak, shopping online, ngegosipin kampus sambil Galung sibuk compile layout. apa yang mau dieval? coba tolong jelaskan!

beres presentasi & evaluasi langsung lega hehehehehehehehe. aaaa i’ll gonna miss you all guys. terima kasih untuk tim yang kece banget, yang selalu siap telinga & tangan untuk aku suruh-suruh (maklum, aku cuma punya sense of art, tanpa skill……..haha)

ah aku bahkan ga punya foto bareng kalian, nampak seperti aku kurang lama menghabiskan waktu bareng kalian.. sampai berjumpa dilain proyek! 

Via
Canon EOS 5D Mark II
edisi kangen TPB bersama beya & miciko

edisi kangen TPB bersama beya & miciko